Rabu, 04 Agustus 2010

Apakah HIV/AIDS Bisa Disembuhkan?

HIV/AIDS: bila mendengar kata-kata ini, terbayang dalam pikiran kita suatu penyakit yang berat dan tidak dapat disembuhkan. Ketika penderita HIV (sebut ODHA) bertemu saya, salah satu pertanyaan yang paling sering ditanyakan adalah : Apakah saya bisa sembuh?

Namun saat dengan tersedianya berbagai obat yang efektif terhadap virus HIV (disebut ARV= anti retroviral), ternyata progresivitas HIV dapat dicegah dan ODHA dapat hidup sehat seperti layaknya bukan penderita HIV.


Apakah HIV/AIDS itu?
AIDS adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh sejenis virus yang disebut dengan virus HIV (Human imunodeficiency virus); yang kalau di terjemahkan berarti virus yang dapat menyebabkan penurunan imunitas/daya tahan tubuh. Pertanyaannya adalah mengapa infeksi virus ini tidak dapat dihilangkan oleh imunitas tubuh seperti virus-virus lainnya? Memang virus HIV memiliki keistimewaan, yaitu: virus ini dapat mengelabuhi sistem pertahanan tubuh sehingga tidak dapat mengenali bahwa tubuh sudah terinfeksi virus. Akibatnya virus ini dapat terus menerus secara leluasa menginfeksi tubuh penderitanya.

Perkataan AIDS sendiri berarti suatu sindroma (kumpulan gejala) dimana penderita mengalami penurunan daya tahan tubuh; dimana nampak dari gejala yang ditimbulkan seperti: penurunan berat badan secara cepat, demam lebih dari 2 minggu yang tidak membaik walaupun telah diobati, diare yang bekepanjangan dan berulang serta timbulnya berbagai infeksi yang tidak umum terjadi seperti infeksi jamur, tuberkulosis (TBC) serta infeksi/radang pada otak atau selaput otak.

Istilah infeksi HIV dan AIDS sendiri memiliki pengertian yang hampir sama dimana HIV berarti virus penyebabnya sedangkan AIDS berarti gejala yang ditimbulkannya. Saya pribadi lebih sering menggunakan istilah HIV dibandingkan AIDS, karena istilah AIDS bagi orang awam memberikan konotasi penyakit yang berat dan tidak dapat disembuhkan; padahal banyak ODHA setelah menjalani pengobatan, walaupun awalnya sudah dalam tahap yang berat , dapat kembali hidup sehat.

Mengapa infeksi HIV umumnya diketahui pada tahap yang sudah lanjut?

Penyakit HIV umumnya tidak diketahui dan tidak memberikan gejala selama bertahun-tahun lamanya, hingga suatu saat dimana kondisi daya tahan tubuh sudah menurun. Infeksi pertama HIV dapat memberikan gejala demam yang tidak khas dan mirip dengan penyakit infeksi lainnya. Setelah beberapa hari demam akan turun dengan sendirinya.
Kemudian penderita akan masuk dalam fase laten, dimana infeksi HIV tidak bergejala selama bertahun-tahun lamanya. Dalam fase ini ODHA tetap dapat dapat menularkan baik kepada pasangan maupun melalui darah bila melakukan donor darah. Setelah fase laten yang dapat berlangsung hingga 5-10 tahun infeksi HIV akan aktif kembali, virus dalam tubuh penderita berkembang-biak hingga menjadi jutaan jumlahnya dan menyerang sistem pertahanan tubuh. Sel Limfosit CD4 (sel darah putih) diserang oleh virus ini hingga jumlahnya menjadi sangat sedikit dan ODHA mudah terserang penyakit infeksi seperti infeksi jamur, tuberkulosis, parasit sepert toksoplasma maupun virus sitomegalo (CMV) yang dikenal dengan istilah infeksi oportunistik.

Bagaimana mengetahui kalau saya sudah terinfeksi HIV?
Bilamana belum ada tanda dan gejala, satu-satunya cara untuk mengetahui infeksi HIV adalah dengan melakukan pemeriksaan darah. Umumnya pemeriksaan darah untuk HIV saat ini sudah mudah dilakukan dan menjadi pemeriksaan lab rutin khususnya di kota-kota besar.

Ada beberapa jenis pemeriksaan yang perlu anda ketahui:
1. Pemeriksaan rapid test (atau pemeriksaan cepat) yang hasilnya segera diketahui.
Umumnya pemeriksaan ini dilakukan untuk test penyaring atau screeing test.
2. Pemeriksaan HIV elisa.
Pemeriksaan ini cukup sensitif dan dapat memiliki ketepatan (sensitivitas) hingga 99%
3. Pemeriksaan konfirmasi Western Blot (WB)
Pemeriksaan ini untuk melakukan konfirmasi test elisa, umumnya hanya dilakukan di
pusat rujukan dan memerlukan waktu yang lama (hasil didapat hingga 1 bulan)


Untuk mendiagnosis infeksi HIV dapat dilakukan dengan melakukan 2 test. Bilamana memungkinkan, pemeriksaan yang terbaik adalah dengan melakukan pemeriksaan elisa, dan bilamana memberikan hasil reaktif (berarti positif) dipastikan dengan pemeriksaan WB.

Di wilayah dengan sarana pemeriksaan yang terbatas; bilamana 2 uji memberikan hasil positif misalnya uji elisa dan rapid HIV reaktif, sudah cukup untuk memastikan diagnosis.
Bilamana hasil pemeriksaan elisa non reaktif, apakah sudah dapat dipastikan seseorang tidak terkena infeksi HIV?
Untuk memastikan seseorang tidak terinfeksi HIV, sebaiknya pemeriksaan elisa dilakukan sebanyak 3 kali dengan rentang waktu 0, 6 minggu, 3 bulan dan 6 bulan. Pemeriksaan berulang dilakukan untuk menghindari hasil negatif palsu pada masa window period, dimana sebenarnya seseorang sudah terinfeksi HIV, namun pemeriksaan masih menunjukkan hasil negatif.

Pemeriksaan screening HIV dianjurkan khususnya pada kelompok berisiko tinggi yaitu:
1. Pengguna atau pernah menggunakan narkoba khususnya dengan jarum suntik.
2. Berganti-ganti pasangan seksual, khususnya dengan orang yang berisiko tinggi
3. Dengan gejala mirip/sesuai dengan infeksi HIV : penurunan berat badan, demam yang
tidak sembuh dangan pengobatan atau berulang, diare berulang dan infeksi jamur di mulut dan tuberkulosis paru (atau di luar paru).


Saat ini kelompok ibu hamil juga sangat diajurkan untuk melakukan pemeriksaan HIV, mengingat risiko infeksi pada bayi dapat dicegah dan diturunkan risikonya secara bermakna bilamana diagnosis diketahui sebelum ibu melahirkan.


Apa yang dimaksud dengan pemeriksaan hitung CD4?
Limfosit CD4 merupakan bagian dari sel darah putih (leukosit) yang diserang oleh virus HIV, dan jumlahnya menurun sejalan dengan beratnya infeksi. Semakin rendah jumlah sel CD4, dapat dikatakan semakin menurun daya tahan tubuh ODHA, dan semakin lanjut perjalanan penyakitnya.


Pada orang normal, jumlah sel CD4 lebih dari 500 hingga 1500 sel/mikroliter darah. Penurunan CD4 dapat dibagi dalam 4 kelas yaitu : (1) 350-500 (2) 200-350 (3) 50-200 dan (4) <50.>

Bagaimana penularan HIV?


HIV menular melalui 3 cara: (1) kontak dari darah ke darah, seperti melalui perlukaan jarum yang tercemar (2) melalui kontak seksual (3) transmisi dari ibu ke bayi. Penularan melalui perlukaan jarum dan kontak seksual merupakan penularan tersering khususnya pada pengguna narkoba dan pelaku seks bebas.


HIV tidak menular melalui kontak sosial seperti: berbicara, bersalaman, makan bersama; atau melalui alat makan, handuk maupun pakaian. HIV juga tidak menular melalui air liur, keringat ataupun gigitan nyamuk.


Kontak langsung dengan cairan tubuh ODHA seperti urin (air seni) dan tinja sebaiknya dihindari. Hindari penggunaan bersama alat-alat yang memungkinkan perlukaan seperti alat cukur, sikat gigi dan gunting kuku

Bagaimana mengobati infeksi HIV/AIDS?
Saat ini telah tersedia cukup banyak obat yang efektif menekan perkembangan virus HIV. Obat tersebut yang dikenal dengan sebutan ARV (anti retroviral). ARV bekerja menekan perkebangbiakan virus ini dalam tubuh ODHA, sehingga jumlah virus dalam tubuh ODHA dapat ditekan serendah mungkin (bahkan hingga tidak terdeteksi dengan pemeriksaan). Dalam kondisi demikian kondisi ODHA akan kembali pulih, daya tahan tubuh kembali meningkat, terhindar dari berbagai infeksi oportunistik.
Obat ARV diberikan bilamana ODHA sudah menampakkan gejala, jumlah sel CD4 kurang dari 200 ataupun bila viral load>100.000/ mikroliter. ARV terdiri dari beberapa golongan obat; saat ini di Indonesia tersedia 3 golongan ARV yaitu : (1) Nucleoside transcriptase inhibitor (NRTI) seperti Zidovudin, Lamivudin, Stavudin; (2) Non nucleoside transcriptase inhibitor (NNRTI) seperti Nevirapin, Efavirenz (3) Protease inhibitor (PI) seperti Liponavir/Ritonavir.
Obat ARV saat ini tersedia di rumah-rumah sakit rujukan di seluruh Indonesia, melalui program pemerintah saat ini obat-obat tersebut dapat diperoleh secara cuma-cuma.


Yang terpenting bagi ODHA yang telah menggunakan ARV adalah keteraturan dan kedisiplinan dalam penggunaan obat. ARV sebaiknya diminum secara teratur, dengan dosis yang benar (satu kali sehari atau dua kali sehari), dan rentang waktu yang sesuai (misalnya jarak waktu 12 jam bila diberikan 2 kali sehari). Penggunaan ARV secara tidak teratur dan terputus-putus akan menyebabkan virus kembali berkembang biak dengan kemungkinan virus akan menjadi resisten atau kebal terhadap obat.


Masalah efek samping seringkali menjadi masalah dalam penggunaan obat, seperti mual, pusing, dan lain-lain. Bilamana kondisi ini terjadi sebaiknya mengkonsultasikan pada dokter yang memberikan pengobatan. Umumnya ARV dapat digunakan dan ditolerasi secara baik dalam jangka panjang hingga digunakan selama bertahun-tahun.


Dengan diagnosis yang lebih dini terhadap penderita HIV, tersedianya pengobatan yang dalam jangka panjang dapat menstabilkan kondisi ODHA, saat ini paradigma terhadap HIV berubah dari penyakit yang mematikan menjadi penyakit yang dapat disembuhkan, walaupun ODHA masih perlu menggunakan obat secara teratur dalam jangka panjang.



2 komentar:

  1. Mmm,,bagus penjelasannya,tapi ada gak yg menjelaskan bgmn persisnya patogenesisnya turunnya kadar CD4 dan leukosit pd penderita HIV/AIDS??terima kasih

    BalasHapus
  2. Penurunan sel CD4 disebabkan sel ini terinfeksi virus HIV sehingga dibunuh oleh pertahanan tubuh. Selain itu fungsi sel CD4 yang terganggu menyebabkan umur sel menjadi lebih pendek (disebut proses apoptosis)

    BalasHapus